Minggu, 13 Januari 2013

Saksi alam

Udara terasa panas
Langit biru berubah kelabu
Detak jantung jam semakin
Mengurangi usianya
Hingga oksigen tak lagi mau
Masuk paru-parunya
Akhirnya langit menangis
Mengantar kepergiannya
Ke tempat peristirahatan terakhir
Dalam hidupnya
(Sumber: Antologi Puisi Bengkel Sastra Indonesia 2010)

Puisi Karya Anak Bangsa

Perempuan Pembatik
Kupandangi sesosok perempuan di sana
Tak begitu nyata….
Kulihat samar tak jelas
Tampak raut wajah menawan
Duduk di kursi tua yang rapuh
Dengan bajunya yang sederhana

Tangan kecilnya
Dengan gemulai goreskan lilin di lembaran kain putih
Yang selalu tersenyum kepadanya …
Dengan canthing kecil mungil
Yang sesekali ditiup olehnya

Tak banyak yang tahu dirinya
Namun banyak yang tahu karyanya

(Sumber: Antologi Puisi Bengkel Sastra Indonesia 2010)

Puisi karya anak bangsa

Sebingkai Wajah

Bersemayam sebingkai wajah termanis
                   Terucap dalam doa:
                   Ini dariku, Sayang, bukan cincin yang kujanjikan
                   Namun mawar putih tanda cinta suci
Dan lilin doa ini akan mati
Seperti kisah di agendaku yang terhenti
Di lembar terakhir kugambar: batu nisan, terukir namamu

(Sumber: Antologi Puisi Bengkel Sastra Indonesia 2010)

Pantu Nama Negara


Bermain bola ditengah lapang
Tidak lupa membawa yoyo
Ibu kota negara Jepang
Kita menyebutnya kota Tokyo

Melihat tentara latihan berbaris
Ternyata banyak yang menonton
Ibu kota negara Inggris
Kita menyebutnya kota London

Analisis Esay Sastra


BERPROSES BERSAMA ANAS MA’RUF MENGULAS PUISI
KISAH ZAMAN
 oleh: Rumaniyah


A.    Biografi Anas Ma’ruf
Anas Ma’ruf lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 27 Oktober 1922. Pernah menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada tahun 1948 dan ikut mendirikan Berita Indonesia tahun 1945 di Jakarta. Pernah jadi pemimpin Umum majalah Nusantara (1946), redaktur majalah kebudayaan Arena dan majalah Patriot di Yogyakarta (1946-1947). Selain itu, ia juga anggota redaksi majalah Indonesia (1950-1952) dan Sekretaris Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (1955-1957). Anas yang dikenal sebagai “administrator kebudayaan” ini juga menerjemahkan karya-karya seperti Gitanyali, Kabir, Shadana, Nyalakan Terus, Antara Kita, Pandu Masa (Sanjak) dan citra karya Rabindranath Tagore. Pada tahun 1962, ia bersama Djamaluddin Malik, Umar Ismail, Asrul Sani, Mahbub Djunaidi, dan para seniman budayawan lain, bergabung di Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia, sebuah lembaga di bawah naungan Nahdatul Ulama.

B.    Puisi Karya Anas Ma’ruf


Kisah Zaman
Anas Ma’ruf

Desir desau air mengalir
          ke pantai mara
          tujuan nyata
Dari udik sampai ke hilir
          penuh rahasia
          sejak semula

Risik risau ombak memecah
          di pantai landai
          buih berderai 

Entah ombak sedang bermadah
          mencurah rasa
          peraman dada.

Alangkah bahagia o, Tuhan
          jika ku mahir
         bahasa air 

Hendak kudengar kisah zaman
         di bibir pantai
         di tepi sungai

Kebudayaan Timur I, 1943


C.    Waktu penciptaan
Banyak karya yang dihasilkan dan hasilnya sangat luar biasa akan tetap tidak banyak orang yang mengenal Anas Ma’ruf, terutama kaum muda yang hidup dalam alam yang telah dibalut dengan berbagai modernitas dan gemerlap gaya hidup saat ini. Dalam dunia sastra  puisi Kisah Zaman yang menggambarkan kebudayaan Timur I yang diterbitkan sejak tahun 1943 menjadi ulasan yang sangat menarik dan menggambarkan seseorang yang mempunyai harapan dalam mkehidupan masa depannya.

D.    Latar Belakang Penciptaan
Latar belakang kehidupan seseorang, pengalaman-pengalaman bekerja pada bidang yang variatif atau berbeda sering melekat dan memberi ciri tertentu pada tindakan atau karya cipta seorang pengarang di kemudian harinya. Demikian pula, seperti halnya terjadi pada diri pengarang Anas Ma’ruf. Ia yang lahir di Bukittinggi yang pada saat itu keadaan lingkungannya masih segar asri. Keindahan alam tersirat dalam puisi hasil karangannya. Ciri lain yang mencolok dari karya-karya Anas Ma’ruf adalah kecintaannya pada daerah dan harapannya. Ini jelas terlihat pada puisi “Kisah Zaman”. Pekerjaan Anas Ma’ruf selaku redaktur majalah/surat kabar, pekerjaan-pekerjaan yang bervariasi dengan tempat yang berpindah-pindah merupakan hal yang sangat menunjang pada keahliannya sebagai seorang pengarang.

E.       Pemilihan kata
Pemilihan kata dilakukan untuk menyampaikan perasaan yang sedang dialami pengarang dalam puisi Anas Ma’ruf yang berjudul Kisah Zaman selilas dibaca terlihat sangat indah terutama pemilihan kata yang digunakan sangat sesuai, sehingga ketika dibaca terasa keindahannya. Terutama puisi ini menggunakan struktur kata dan cara penyampainnya yang mudah di pahami dan lebih istimewa.

F.       Gaya Bahasa
Gaya bahasa atau gaya tulisan yang digunakan berbentuk kiasan (metaphor). Metaphor yaitu cara mengungkapkan pengertian atau maksud tentang sesuatu dengan menyamakan sesuatu ini dengan hal lain secara implisit:
Desir desau air mengalir
          ke pantai mara
          tujuan nyata 
(kehidupan yang dijalani digambarkan seperti desir desau air mengalir kepantai  mara).
Selain metafora dalam puisi ini menggunakan majas personifikasi menggunakan seolah-olah seperti atau sesuatu yang tidak hidup menjadi seakan-akan hidup.
Entah ombak sedang bermadah
          mencurah rasa
          peraman dada.
 (ombak yang  sebenarnya benda mati seakan-akan bisa bicara dan seakan-akan hidup dan ikut merasakan)

G.     Tema
Sudah sangat dikenal bahwa tema dalam sebuah puisi adalah gagasan atau dasar dalam sebuah karya, maka dalam puisi Kisah Zaman Nampak jelas gagasan yang diambil. Jelas terlihat pada ratapannya terhadap kehidupan yang dihadapi menjadi kenyataan diungkapkan dalam puisi Anas Ma’ruf. Sehingga dapat disimpulkan tema yang di ambil adalah kisah pribadi atau pengalaman yang pernah di alaminya.

Pantun Nama Ibukota

Oleh : Rumaniyah

Belum mati masih sekarat
Tetangganya minta tolong
Propinsi Papua Barat
Ibu kota propinsinya Sorong

Kalau berlari janganlah lengah
Nanti terjatuh pastilah luka
Propinsi Papua Tengah
Ibu kota propinsinya Timika

Pagi hari sudah menjemur
Yang dijemur baju tentara
Propinsi Papua Timur
Ibu kota propinsinya Jayapura